Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Pendidikan Politik bagi mahasiswa sebagai bagian dari Akademi Demokrasi untuk memperkuat pemahaman demokrasi dan keterampilan partisipatif generasi muda.

Jakarta, 1 Juli 2026 – Melanjutkan gelombang pertama untuk pelajar SMA, Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) Pendidikan Politik untuk Mahasiswa di Cityloog Hotel, Tebet, Jakarta, pada 1-2 Juli 2026. ToT ini menjadi gelombang kedua dari rangkaian Akademi Demokrasi, yang akan dilanjutkan dengan gelombang ketiga bagi guru sekolah.

Pelatihan diikuti oleh 20 mahasiswa, dengan tetap menjalankan prinsip kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI) serta partisipasi yang setara bagi seluruh peserta. Berbeda dari pendekatan pedagogis yang dipakai untuk pelajar SMA, sesi bagi mahasiswa dirancang dengan pendekatan andragogi, memberi ruang lebih luas bagi peserta untuk berdiskusi dan mengaitkan konsep demokrasi dengan konteks sosial-politik yang mereka hadapi sehari-hari.

Ruang diskusi itu menampilkan sikap kritis yang cukup kuat di kalangan peserta. Diskusi pra-sesi menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa menilai kondisi demokrasi Indonesia saat ini belum baik, sementara sejumlah peserta lain turut meragukan apakah demokrasi masih menjadi sistem politik terbaik. Sikap ini menjadi bahan diskusi hidup sepanjang empat modul utama, dengan post-test di akhir tiap sesi yang menunjukkan pemahaman peserta terhadap materi tetap konsisten dan kuat.

Salah satu kelompok mempresentasikan simulasi partai politik bentukan mereka dalam sesi Aktor-Aktor Demokrasi

Hari kedua diisi dengan praktik mengajar atau mockup, di mana peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk membawakan ulang materi kepada kelompok lain sebagai trainer. Penampilan tiap kelompok dinilai langsung oleh fasilitator, dengan capaian keseluruhan berada pada kategori baik. Sejumlah kelompok tampil menonjol dalam penguasaan materi dan kemampuan memfasilitasi diskusi, sementara kelompok lain masih perlu memperkuat pemerataan peran antaranggota.

Evaluasi akhir program menunjukkan bahwa mayoritas peserta menilai substansi materi, penyampaian fasilitator, dan bahan ajar sudah baik dan memadai, dengan sejumlah masukan terkait pemerataan partisipasi antaranggota kelompok saat sesi mockup. Masukan ini akan menjadi bahan penyempurnaan gelombang ToT berikutnya bagi guru sekolah.

Sikap kritis yang muncul sepanjang pelatihan turut mendasari rencana tindak lanjut yang ditawarkan Perludem: skema beasiswa bagi lulusan untuk mengimplementasikan materi yang telah diterima, serta ajakan menulis opini populer yang menyalurkan keresahan maupun gagasan mereka menjadi tulisan yang konstruktif. Tulisan ini akan dipublikasikan melalui Rumah Pemilu dan dihimpun bersama karya gelombang pelajar SMA dan guru dalam sebuah buku bunga rampai.

Rangkaian tindak lanjut ini menegaskan posisi mahasiswa sebagai agen perubahan yang mengubah kritik terhadap demokrasi menjadi partisipasi nyata, sekaligus memperluas dampak Akademi Demokrasi Perludem hingga ke tingkat akar rumput.


M. Iqbal Kholidin
Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem)