Media Briefing and Civil Society Workshop: Understanding the Mixed Member Proportional Electoral System and Its Simulation Results in Indonesia, Jakarta (23/7)

Perludem bersama International IDEA menyelenggarakan Media Briefing and Civil Society Workshop: Understanding the Mixed Member Proportional Electoral System and Its Simulation Results in Indonesia di Rumah Belajar Indonesia Corruption Watch (ICW), Jakarta (23/7). Kegiatan ini diikuti oleh jurnalis dan organisasi masyarakat sipil sebagai ruang untuk lebih memahami sistem campuran beserta hasil simulasinya dalam konteks Indonesia.

Direktur Eksekutif Perludem, Heroik M Pratama menjelaskan, bahwa simulasi yang dipaparkan bukan merupakan prediksi hasil pemilu, melainkan instrumen untuk melihat implikasi teknis dari berbagai pilihan desain sistem pemilu dengan menggunakan data Pemilu 2024. Menurutnya, simulasi tersebut mengadaptasi pengalaman negara-negara yang menerapkan sistem Mixed Member Proportional (MMP), seperti Selandia Baru dan Jerman, untuk menjadi bahan pembelajaran dalam konteks Indonesia.

Sementara Senior Programme Manager of International IDEA, Adhy Aman memaparkan ragam sistem pemilu yang berkembang di berbagai negara beserta tujuan dan karakteristiknya. Ia menjelaskan bahwa tidak ada sistem pemilu yang sepenuhnya sempurna karena setiap negara memiliki kebutuhan dan konteks politik yang berbeda. Namun, setiap desain sistem memiliki konsekuensi yang dapat diukur, baik terhadap tingkat keterwakilan, stabilitas pemerintahan, maupun hubungan antara pemilih dan wakil rakyat.

Selanjutnya, peneliti Perludem Iqbal Kholidin menjelaskan, simulasi dilakukan dengan beberapa skenario, meliputi sistem Paralel dan MMP dengan penggunaan daftar nasional maupun daftar provinsi, serta pilihan beberapa ambang batas parlemen yang berbeda. Secara umum, hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem Parallel cenderung lebih menguntungkan partai-partai besar, sedangkan sistem MMP menghasilkan distribusi kursi yang lebih mendekati prinsip proporsionalitas.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan dari peserta. Sejumlah isu yang mengemuka antara lain, pengaruh sistem pemilu terhadap praktik politik uang, peluang munculnya partai-partai alternatif, pengaturan parliamentary threshold (PT), hingga pentingnya penghitungan ulang besaran dapil.

Menutup kegiatan, Direktur Eksekutif Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit), Hadar Nafis Gumay menegaskan bahwa simulasi ini bukan dimaksudkan untuk menawarkan suatu sistem sebagai solusi atas seluruh persoalan demokrasi. Sebaliknya, hasil simulasi diharapkan menjadi dasar diskusi yang lebih berbasis bukti mengenai berbagai pilihan desain sistem pemilu. 

Melalui kegiatan ini, Perludem bersama International IDEA berharap media dan organisasi masyarakat sipil memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai sistem campuran khususnya MMP beserta hasil simulasinya. Dengan demikian, diskusi mengenai reformasi sistem pemilu di Indonesia dapat berkembang secara lebih akurat, berbasis bukti, dan mudah dipahami oleh publik.

 

Ajid Fuad Muzaki
Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem)